Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Generasi Z di Era Pandemi

    Kita tahu bahwa bumi ini sedang tidak sehat. Pandemi COVID-19 yang sedang kita alami ini sangat memengaruhi kehidupan masyarakat, yang sebelumnya kita menjalani kehidupan dengan normal, tiba-tiba terjadi perubahan besar. Sebelum ada pendemi, kita bisa dengan bebasnya menghirup udara di luar, namun kini kita harus selalu menggunakan masker ketika di berada di luar. Dulu kita bebas ingin berinteraksi dengan siapapun, kini interaksi dibatasi dengan adanya keharusan untuk menjaga jarak antar individu. Anak-anak muda yang dulunya memiliki kesibukan di luar, misalnya untuk bersekolah, bermain, berorganisasi, mengikuti komunitas, melakukan berbagai kegiatan di luar ruangan, kini hanya bisa ‘berdiam diri’ di rumah, melakukan segala kegiatan secara virtual. Dengan adanya pandemi ini, memunculkan masalah baru di lingkungan masyarakat, khususnya anak muda. Masalah ini berkaitan dengan kesehatan mental, di mana anak muda memiliki pemikiran yang belum sepenuhnya dewasa, namun juga tidak bisa dikatakan sebagai pemikiran anak kecil. Maka dari itu perubahan sebegitu besarnya di era pandemi ini dapat memengaruhi kesehatan mental para remaja.

    Mental anak muda bisa dikatakan labil dan cenderung mengikuti egonya tanpa memedulikan akibat apa yang didapat nantinya. Pada masa-masa ini sangat diperlukan peran orang dewasa untuk mengarahkan kepada hal-hal yang baik. Huang & Zhao (2020) mengatakan bahwa anak muda memiliki risiko depresi lebih besar daripada orang tua. Maka dari itu, diperlukan peran orang tua untuk membantu anak muda agar terhindar dari gangguan mental, terutama di era pandemi ini. Pandemi COVID-19 dapat menimbulkan panik, rasa takut, khawatir, dan merasakan ada ancaman, semuanya akan  menimbulkan  emosi  dan  fikiran  negatif  sehingga  berdampak  kepada  kesehatan  mental (Maulida, 2020).

    Gangguang  depresi  adalah  kehadiran  suasana   hati   yang   sedih,   kosong,   atau   mudah tersinggung,  yang  bersama-sama dengan  gejala  kognitif   dan   somatik    tertentu,    mengarah   ke kesulitan  atau  penurunan  fungsi  yang  signifikan. Gangguan   mood   pada  anak-anak yang   menunjukkan  kemarahan  yang  parah,  yang tidak  proporsional  dengan  peristiwa  pemicu,  dan terkait  dengan  perasaan  jengkel  atau  sedih yang terus menerus muncul.  Gangguan  Depresi selama  pandemi  diartikan  sebagai  emosi  yang kuat yang mempengaruhi seseorang selama  pandemi COVID-19 berlangsung (Maulida, 2020).

    Tanda-tanda Kesehatan mental terganggu, misalnya mudah merasa putus asa, tak berharga, rendah diri dan hilangnya kepercayadirian, selalu cemas dan khawatir berlebihan, sensitif, mudah tersinggung, selalu berpikiran buruk, suasana hati memburuk, sedih berkelanjutan, merasa hidup tidak berguna, tidak ada yang membutuhkan, tidak ada yang menyayangi, serta muncul pikiran untuk melukai diri senidiri bahkan bunuh diri.

    Dalam masyarakat umum, kesehatan mental dianggap bukan masalah besar, hal ini nampak pada komentar beberapa pihak, bahwa orang yang mengalami depresi atau stres berkepanjangan itu dikarenakan kurangnya ibadah, kurangnya ikhlas menerima takdir. Sehingga kesehatan mental itu diabaikan, dianggap terlalu melebih-lebihkan, membuat masalah sendiri. Padahal menurut Putri (2015) Kesehatan mental atau  kesehatan  jiwa  merupakan aspek penting  dalam  mewujudkan  kesehatan  secara menyeluruh. Maka dari itu, sangat penting menjaga kesehatan mental agar kesehatan fisik pun bisa dicapai.

    Permasalahan kesehatan mental harusnya dianggap serius, karena menyangkut kelangsungan hidup seorang individu. Salah satu cara yang paling tepat bila seseorang mengalami gangguan kesehatan mental adalah datang ke Psikolog atau Psikiatri. Sayangnya, masyarakat sekarang masih menganggap hal tersebut tabu. Banyak orang menjadi malu untuk mendatangi ahli kejiwaan karena takut dicap “tidak waras”. Inilah yang menjadi masalah, stigma masyarakat itu harus diubah. Bahwa tidak semua yang datang kepada ahli kejiwaan adalah orang yang tidak waras, siapa saja yang merasa membutuhkan bantuan ahli jiwa boleh mendatanginya, karena dari situ kita akan mendapat solusi.

Daftar Pustaka :

1.       Ayuningtyas, D. and Rayhani, M. 2018. Analisis Situasi Kesehatan Mental pada Masyarakat di Indonesia dan Strategi Penanggulangannya. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat9(1).

2.       Maulida, H., Jatimi, A., Heru, M. J. A., Munir, Z., & Rahman, H. F. 2020. Depresi pada Komunitas dalam Menghadapi Pandemi COVID-19: A Systematic Review. Jurnal Sains dan Kesehatan.

3.       Putri, A. W., Wibhawa, B., & Gutama, A. S. 2015. Kesehatan mental masyarakat Indonesia (pengetahuan, dan keterbukaan masyarakat terhadap gangguan kesehatan mental). Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat2(2).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Motivasiku Menjalani Kuliah di Kedokteran