Motivasiku Menjalani Kuliah di Kedokteran
Assalam’ualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
(Note : Blog dan karangan ini dibuat sebagai tugas ospek)
Perkenalkan namaku Neysa Ardrasheila Cesa, aku lahir di Yogyakarta tahun 2001. Tahun ini aku menjadi mahasiswa baru Prodi Kedokteran pada salah satu universitas di Jawa Timur. Berbicara tentang cita-cita, menjadi seorang dokter adalah cita-citaku ketika masih kecil. Ya, sama seperti kebanyakan anak kecil kalau ditanya “Kalau sudah besar mau jadi apa?”, pasti jawabannya dokter, polisi, insinyur, atau guru. Meski begitu, aku juga sempat berganti cita-cita, mulai dari dokter saat aku TK, lalu ingin jadi guru saat aku SMP, pernah juga kepikiran ingin jadi dosen. Nah, ketika aku menginjak SMA, mulailah terbentuk impian yang pasti, terbentuk tekad, aku sadar aku punya impian yang harus kuperjuangkan.
Bagiku, diterima di Prodi Kedokteran itu seperti mendapat tanggung jawab besar. Bahkan di lingkungan keluargaku, hal tersebut bukanlah untuk dipamerkan atau dibangga-banggakan. Aku sendiri merasa ini adalah tanggung jawab yang sangat besar, kenapa? Karena apabila sudah memilih jalan ini, maka aku harus siap menerima segala konsekuensinya. Dengan kuliah di kedokteran, aku harus menyadari bahwa disini aku dicetak untuk menjadi tenaga medis di kemudian hari, pekerjaanku nantinya berkaitan langsung dengan nyawa manusia. Maka dari itu, segala ilmu yang aku dapatkan selama perkuliahan haruslah dipahami betul, karena di situlah letak tanggung jawabnya, untuk menjadi seorang dokter yang baik di kemudian hari.
Konsekuensi seperti apa? Ketika aku SMA, banyak cerita yang ku dapatkan tentang perkuliahan di kedokteran, dan saat ini ku buktikan sendiri satu per satu. Baru kuliah dua minggu sudah sangat terasa bedanya. Lebih banyak begadang, kantung mata, tugas, ujian tiap minggu… Jarang ada waktu longgar, waktu tidur berkurang, kadang waktu pun terasa kurang untuk mengerjakan tugas… Ingin mengeluh? Wajar manusia mengeluh, namun bukan berarti sampai pada keluhan saja tanpa tindakan.
HARUSNYA, segala konsekuensi itu sudah ku pahami sejak awal, ketika aku memutuskan untuk masuk ke jurusann ini aku harus siap dengan segala konsekuensinya. Seperti yang dikatakan oleh dosenku pada saat kuliah Doctoring, closing statement setelah beliau mengajar, beliau berkata dengan nada bercanda, “Derita lo, siapa suruh masuk kedokteran?” Seketika itu, kata-kata beliau berhasil menyentuh hati dan otakku, hatiku meresapi kata-kata beliau dan otakku mengolah kata-kata beliau. Kata-kata beliau membuatku sadar bahwa memang benar kuliah di kedokteran itu berat, dan kenapa aku milih itu? Kenapa aku mau yang berat? Nah, saya juga pernah berdiskusi dengan teman saya tentang hal itu, dan jawabannya sangat melekat di pikiran saya. Jawabannya adalah semua dikembalikan lagi ke niat awal. Niat masuk kedokteran untuk apa? Untuk memenuhi gengsi? Untuk pamer? Untuk dibangga-banggakan? Kalau niatnya tidak lurus untuk pengabdian, maka akan terasa berat berjuang disini. Kalau benar niatnya untuk mengabdi, maka akan dengan senang hati belajar, menerima segala ilmu, tidak banyak mengeluh, karena bagaimana pun ilmu yang didapatkan kelak juga akan dipakai untuk membantu mengobati orang sakit.
Dari situ aku mulai menemukan pencerahan. Perkuliahan yang sebelumnya ku rasa berat ini sebenarnya bertujuan untuk mematri para calon tenaga medis di kemudian hari, agar punya mental dan kompetensi yang memadai. Maka, sebisa mungkin aku berusaha menjalani perkuliahan ini dengan ikhlas dan kelapangan untuk mendapat ilmu yang kelak ilmu itu akan ku pertanggungjawabkan.
Apakah cita-citaku berhenti cukup sampai berkuliah di kedokteran? Tentu saja tidak. Ada satu hal lain yang memotivasiku, sebuah pengalaman oleh seseorang terdekatku berjuang dari kanker, kisahnya sangat membekas di hati dan menjadi cambuk api semangatku. Kisah itu selalu menjaga motivasiku untuk tetap ‘lurus’ sampai lulus, sampai koas, sampai UKMPPD, sampai internship, sampai menjadi dokter yang baik, sampai bisa buka praktik sendiri, sampai bisa mendirikan klinik gratis, sampai bisa menyejahterakan orang susah.
Bagi yang sengaja/tidak sengaja mampir di post ini, mungkin bantu Aamiin kan. Terima kasih
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Komentar
Posting Komentar